Teknologi, antara Positif dan Negatif.
A.J Kinasih
Jika kita melihat dunia lewat kacamata pengembara, maka kita akan menemukan dunia yang begitu luas. Begitu juga ketika kita melihat dunia lewat teropong ilmu pengetahuan, maka yang akan kita dapati adalah dunia dengan sejuta misteri. Namun jika melihat dunia lewat jendela teknologi, maka persepsi kita tentang dunia mungkin persis seperti yang pernah diucapkan oleh pepatah, “Dunia tak selebar daun kelor.”
Teknologi memang menjadikan segalanya begitu mudah dan mengasikkan. Dengan adanya pesawat terbang yang menjadikan benua yang satu dengan benua yang lain seperti tetangga dekat. Atau kalau kamu pernah main internet maka kamu akan merasakan dunia berada didepan matamu. Belum lagi handphone ditangan, maka dunia akan berada dalam genggamanmu. Kamu hanya perlu menelpon sahabatmu diseberang samudra lalu dalam hitungan detik kamu sudah berada disana, bercengkrama atau mungkin bercinta.
Namun segala sesuatu, termasuk juga teknologi, selalu menyuguhkan dualisme yang saling bertentangan. Teknologi menjadikan segalanya menjadi mudah namun disisi lain juga menjadikan kita semakin jauh tenggelam dalam kehidupan sehingga sering sekali kita lupa ada sesuatu yang selama ini luput dari perhatian, sesuatu yang bernama Tuhan. Bahkan tidak sedikit pula, teknologi menjadikan orang begitu percaya diri dan lantas menuhankan otaknya. Banyak orang mulai menuhankan logika dan menganggap semua yang ganjil dan tidak bisa diterima logika adalah bullshit.
Silahkan sekali waktu main di warnet dan perhatikan jarak antara kebaikan dan keburukan hanya dipisahkan oleh satu sentuhan halus berbunyi, “Klik!”. Dengan teknologi pula sebuah Negara dapat dibumi hanguskan hanya dalam waktu beberapa jam. Teknologi menjadikan manusia sebagai penguasa karena itu kita sering tergelincir pada keangkuhan dan bahkan tidak jarang meniadakan Tuhan. Kita sering lupa bahwa sesungguhnya tubuh kita sendiri memiliki jaringan dan mekanisme tubuh yang sangat rumit, yang sampai sekarang pun, tidak seorang ilmuwan pun mampu untuk sekedar meniru dengan persis. Ketika sebuah robot anjing diperkenalkan di Jepang beberapa waktu lalu yang kemudian didaulat sebagai robot tercanggih adalah buktinya. Secanggih apapun robot tersebut ia tidak bisa melakukan hal yang selama ini kita anggap sepele, yaitu buang air besar!
Sisi lain negatif dari teknologi adalah kecendrungannya menjadikan manusia bukan sebagai manusia tapi sebagai mesin. Teknologi menjadikan dunia industri tumbuh dan berkembang dengan subur. Dan yang menjadi ciri khas dunia industri adalah menempatkan manusia jauh dari kebutuhannya sebagai manusia. Manusia memerlukan interaksi namun yang terjadi di Negara industri individualisme yang begitu tinggi. Kontras sekali dengan Negara agraris yang masing-masing individunya terikat satu sama lain. Jangan pernah berharap ada gotong royong pada Negara industri karena pada prinsip mereka yang take and give. “Saya akan memberikan sesuatu tapi apa yang saya dapat setelah itu?” kira-kira begitu ilustrasinya.
Tapi bukan berarti kita harus mengharamkan teknologi, hanya saja bagaimana menjadikan kita yang menguasai teknologi bukan sebaliknya, teknologi menguasai kita. Karena seringkali kita membeli handphone bukan atas untuk memenuhi kebutuhan tapi karena kekuasaan handphone yang seolah berkata, “Tanpa hanphone kamu seperti hidup di zaman purba.”
