Rabu, 09 April 2008

Artikel

Monster Mengerikan Bernama “Global Warming”

Amanah Jati Kinasih

Bongkahan-bongkahan es yang berdiri kokoh di kutub utara dan selatan sebentar lagi akan mencair. Permukaan air laut pun naik dan akan menenggelamkan daratan di bumi ini. Bencana demi bencana berhasil menampilkan kehebatannya meluluhlantakkan bumi;Tsunami, banjir bandang, kekeringan, peningkatan jumlah penyakit;. Ada apa dibalik ini semua? “Global Warming” berhasil menjadi monster mengerikan yang akan membantai bumi kita tercinta.

Ada dua penyebab pemanasan global, diantaranya: pertama, efek rumah kaca. Segala sumber energi yang terdapat di Bumi berasal dari Matahari. Sebagian besar energi tersebut dalam bentuk radiasi gelombang pendek, termasuk cahaya tampak. Ketika energi ini mengenai permukaan Bumi, ia berubah dari cahaya menjadi panas yang menghangatkan Bumi. Permukaan Bumi, akan menyerap sebagian panas dan memantulkan kembali sisanya. Sebagian dari panas ini sebagai radiasi infra merah gelombang panjang ke angkasa luar. Namun sebagian panas tetap terperangkap di atmosfer bumi akibat menumpuknya jumlah gas rumah kaca antara lain uap air, karbondioksida, dan metana yang menjadi perangkap gelombang radiasi ini. Gas-gas ini menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang yang dipancarkan Bumi dan akibatnya panas tersebut akan tersimpan di permukaan Bumi. Hal tersebut terjadi berulang-ulang dan mengakibatkan suhu rata-rata tahunan bumi terus meningkat. Gas-gas tersebut berfungsi sebagaimana kaca dalam rumah kaca. Dengan semakin meningkatnya konsentrasi gas-gas ini di atmosfer, semakin banyak panas yang terperangkap di bawahnya. Sebenarnya, efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin.Sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Tetapi, jika berlebihan maka akan menyebabkan pemanasan global. Kedua, efek umpan balik. Efek-efek dari agen penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Sebagai contoh adalah pada penguapan air. Pada kasus pemanasan akibat bertambahnya gas-gas rumah kaca seperti CO2, pemanasan pada awalnya akan menyebabkan lebih banyaknya air yang menguap ke atmosfer. Karena uap air sendiri merupakan gas rumah kaca, pemanasan akan terus berlanjut dan menambah jumlah uap air di udara hingga tercapainya suatu kesetimbangan konsentrasi uap air. Efek rumah kaca yang dihasilkannya lebih besar bila dibandingkan oleh akibat gas CO2 sendiri. (Walaupun umpan balik ini meningkatkan kandungan air absolut di udara, kelembaban relatif udara hampir konstan atau bahkan agak menurun karena udara menjadi menghangat). Umpan balik ini hanya dapat dibalikkan secara perlahan-lahan karena CO2 memiliki usia yang panjang di atmosfer. Efek-efek umpan balik karena pengaruh awan sedang menjadi objek penelitian saat ini. Bila dilihat dari bawah, awan akan memantulkan radiasi infra merah balik ke permukaan, sehingga akan meningkatkan efek pemanasan. Sebaliknya bila dilihat dari atas, awan tersebut akan memantulkan sinar Matahari dan radiasi infra merah ke angkasa, sehingga meningkatkan efek pendinginan. Apakah efek netto-nya pemanasan atau pendinginan tergantung pada beberapa detail-detail tertentu seperti tipe dan ketinggian awan tersebut. Detail-detail ini sulit direpresentasikan dalam model iklim, antara lain karena awan sangat kecil bila dibandingkan dengan jarak antara batas-batas komputasional dalam model iklim (sekitar 125 hingga 500 km untuk model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat). Walaupun demikian, umpan balik awan berada pada peringkat dua bila dibandingkan dengan umpan balik uap air dan dianggap positif (menambah pemanasan) dalam semua model yang digunakan dalam Laporan Pandangan IPCC ke Empat. Umpan balik penting lainnya adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersama dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.Umpan balik positif akibat terlepasnya CO2 dan CH4 dari melunaknya tanah beku (permafrost) adalah mekanisme lainnya yang berkontribusi terhadap pemanasan. Selain itu, es yang meleleh juga akan melepas CH4 yang juga menimbulkan umpan balik positif. Kemampuan lautan untuk menyerap karbon juga akan berkurang bila ia menghangat, hal ini diakibatkan oleh menurunnya tingkat nutrien pada zona mesopelagic sehingga membatasi pertumbuhan diatom daripada fitoplankton yang merupakan penyerap karbon yang rendah.

Global Warming sendiri merupakan kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Temperatur rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan temperatur rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia" melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut. Dampak pemanasan global khususnya di Indonesia diantaranya Perubahan Iklim yaitu meningkatnya temperature dan curah hujan yang lebih lebat. Pertanian, adanya perubahan pola presipitasi, penguapan, air limpasan, dan kelembapan tanah. Adanya resiko terjadi ledakan hama dan terancamnya ketahanan pangan. Kelautan, Naiknya permukaan laut yang berpotensi mengakibatkan perluasan lahan rawa pasang surut, meningkatkan salinitas tanah dan tingkat keasaman (PH) tanah di sekitar pantai serta akan menenggelamkan daerah pesisir yang produktif. Satwa, perubahan habitat dan penurunan populasi amfibi secara global.

Sebagai manusia yang sehat akal seharusnya kita sadar dengan apa yang terjadi saat ini, tentang kelanjutan kehidupan di muka bumi ini. Pemanasan global memang tidak bisa dicegah tapi kita dapat meminimalisir dengan melakukan hal-hal yang dapat menghambat pemanasan global itu sendiri. Tidak usah jauh-jauh kita mulai dari diri sendiri, dengan menjalin hubungan baik dengan alam sekitar. Karena sebenarnya penyebab utama kejadian luar biasa ini adalah manusia. Setelah adanya kesadaran barulah kita melakukan hal yang lebih kogkrit yaitu dengan menghilangkan jumlah gas karbondioksida. Dengan apa? Yaitu dengan memelihara pepohonan dan menanam pohon lebih banyak lagi. Pohon, terutama yang muda dan cepat pertumbuhannya, menyerap karbondioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca. Gas karbondioksida juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan (lihat Enhanced Oil Recovery). Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia, di mana karbondioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan. Langkah berikutnya, membuat tempat resapan air hujan yang akan mendinginkan bumi, karena faktanya daerah- daerah yang seharusnya menjadi daerah resapan air hujan sekarang menjadi daerah yang dipadati bangunan. Sehingga, air hujan tidak bisa terserap ke dalam tanah yang kemudian menyebabkan banjir. Dengan begitu diharapkan dapat menghambat bahkan mengurangi dampak-dampak yang ada.

Pemanasan global merupakan masalah serius. Kita harus bangun dari kebodohan kita dan ketidakmampuan kita dalam menjalin hubungan baik dengan alam. Sadarlah..sadarlah..bumi ini perlu tebusan dosa kita, karena kita telah mengabaikan alam.

Tidak ada komentar: